waiting?
waiting?
hardest thingis…
truth!
not like you seen..
can you do what i did?
wait..is a hardest part
hujan datang lagi. gadis berambut panjang itu menatap nanar ke lapangan. mengingat kejadian setaun yang lalu. tere, selalu termenung jika hujan datang. mengingatkan seseorang padanya. seseorang yang telah mengubah hidupnya, mewarnai hidupnya. ya dialah reno, seseorang yang amat sangat tere sayangi.
Tere masih termenung memandang hujan. memikirkan dan mengingat kejadian setahun yang lalu dengan reno.
~~~ter, aku sayang sm kamu. kamu mau nggak jadi pacar aku?~~~ ya tere masih ingat betul perkataan reno padanya.
Tere msih memutar memorinya. Memorinya bersama reno yang sudah menjadi kekasihnya itu. tere merasa hidupnya sangat indah. tere mengerti apa artinya dicintai dan mencintai.
Tidak terasa tere meneteskan air matanya. ya ia menangis. mungkin bukan reno penyebabnya, tp krna kebodohannya. sebulan yang lalu tere memutuskan hubungan dengan reno. tere tau dia bodoh! dia terlalu egois! terlalu emosi! dia tidak memikirkan apa yang terjadi nantinya. Tere sangat menyesal dengan keputusannya. namun, mau dikata apa mereka memang telah terpisah dan tere tau penyesalan selalu datang terlambat
tere masih duduk termangu memandang lapangan itu. air hujan masih turun setia mendampingi tere saat itu. tapi tiba2 tere melihat reno ditengah lapangan, berteriak dan mengucapkan kata yang sama pada 1 tahun yang lalu. tere tidak sadar itu nyata, dia fikir hanya ilusi semata. sampai reno menghampirinya, memegang tangannya, mengatakan kata yang sama dengan yang ia ucapkan setahun yg lalu. tere pun tersadar. itu bukan ilusi, itu memang reno. orang yang dinanti dan dicintainya. cinta itu pun bersatu kembali :)
senyummu tak pernah terlupa,
wajahmu slalu terbayang di mataku,
dan namamu slalu terukir di hatiku
Entah sampai kapan….
aku pun tak tau, krna yang ku tau perasaan itu enggan dihilangkan.
menanti hatimu seperti menanti sesuatu yang tak pasti.
penat dan bosan!
ingin ku lenyapkan rasa yang ada dihati ini!
tp entah mengapa, rasa itu tak ingin diusik dr hati ini.
bintang pun mulai hilang satu persatu, tp rasa itu tak pernah hilang.
Rasa itu mengisi hatiku yang kosong selama 3 tahun ini! mengisi memori otakku hingga full tentang dirimu.
Aku berusaha menghilangkan rasa itu, tp sepertinya rasa itu sudah melekat dihatiku, seperti tak ingin diusik oleh siapapun dan apapun.
Kini rasa itu masih ada…
Entah… tak pernah bisa berkurang meski ku terus berusaha menguranginya..
Mungkin rasa ini akan terus ada..
tetapi mungkin kau memang bukan untukku..
percuma..
Karna ini hanyalah penantian yg takkan berujung!
Tp taukah? penantian ini masih berlangsung…dan akan terus berlangsung sampai rasa itu hilang karna waktu :)
Hujan..
Awan-awan disana tlah menumpahkan tangisnya..
Langit telah mengeluarkan gemuruhnya
Dan kilat itu menyambar sesuatu yg menghalanginya..
Aku?
Aku masih terdiam disini
Masih terperosok di lubang kehancuraan
Masih terombang-ambing di dalam ombak bimbang
terseok-seok di tebing curam
Kau?
Tertawa..
Menikmati smua yang ada disekitarmu
Wajahmu selalu dihiasi senyuman venus
Matamu memancarkan sinar matahari
Dan disekitarmu dewi keberuntungan menyertaimu
Entah..
Aku tak bisa memngeluarkan diri dr lubang itu..
Aku tak bisa menerjang ombak ini..
Gelap..yang ada hanya asa yang tipis dan hati yang terbelah
Awan masih menangis
Langit masih bergemuruh
Kilat pun masih menyambar
Dan aku?
Aku pun masih disini
Diam
menunggumu…
Apa kita tau dengan siapa kita akan merasa jatuh hati? Apa kita tau? Tidak? Memang. Kita tidak akan pernah tahu. Allah memang punya rencana untuk semua umatnya. Dan gue yakin, Allah punya rencana lain buat gue.
Gue tau perjalanan romantisme gue nggak semulus jalan tol. Perjalanan hati gue nggak selancar jalan jakarta saat lebaran. Perjalanan gue? Kacau. Macet. Gradakan. Gapernah mulus. Berlubang. Bahkan jalan2 berlubang itu nggak pernah di tambal. Tetap berlubang. sampe menyebabkan kecelakan dan benturan dimana-mana. Tapi gue masih selamat. Gue masih utuh. Gue emang udh compang-camping. Gue emg udah nggak semulus dulu waktu pertama kali mulai jalan. Gue emang udah pernah masuk lubang yang parah. Lubang yang isinya lumpur, tanah, daun, bahkan lubang yang isinya jarum. Gue masih utuh. Gue masih hidup. Meski udah robek sana-sini. Udah kotor. Tapi gue masih bisa jalan lagi. Gue bisa survive lg. Gue masih bisa nyari jalan yang baru.
Sampe gue udah mulai pulih. Gue mulai bisa jalan dengan baik, tanpa terseok-seok. Mungkin masih ada luka. Masih ada koreng yang belum mengering. Tp gue yakin seiring waktu koreng-koreng ini akan mengering dan menghilang dengan sendirinya. Gue mulai mencari jalan-jalan baru yang mulai membaik kondisinya. Ya mungkin masih nggak seperti jalan tol, mungkin hanya terlihat seperti jalan fatmawati saat sore menjelang petang. Masih macet. Tapi setidaknya hanya ada kerikil2 kecil yang menghalangi.
Gue terus berjalan….dan sampailah gue disebuah lubang. Begonya gue. Gue nggak hati-hati. Gue nggak waspada. Dan tau2 gue udh masuk dan terjebak di lubang itu. Lubang itu emang nggak sedalem lubang yang dulu. Nggak segelap lubang yang dulu. Lubang itu masih terang, gue bisa keluar dengan sedikit usaha kalo gue mau. Parahnya, di lubang ini ada kasur. Kasur yang empuk bgt. Kasur yang emang bisa ngebuat gue nyaman dan berfikiran nggak mau ninggalin kasur itu. Ngebuat gue enggan pergi. Kasur itu yang ngebuat gue betah dan memilih stay.
Seiring waktu ternyata di kasur itu ada kutu-kutu kecil yang menghuni. Kutu2 itu yang secara perlahan menggigit gue. Secara perlaham menghabiskan darah gue. Dan dari situlah gue tau. Kasur ini udah nggak membuat gue nyaman lagi. Gue terlalu terlena dengan bayangan akan kenyaman yang bakal gue dapet. Gue terlalu malas untuk berusaha. Gue pun bangkit. Gue nggak mau terjebak di kasur itu. Tp gue merasa susah banget untuk bangkit. Terlalu susah untuk meninggalkan kasur itu. Terlalu tinggi kenyamanan yang harus gue tinggalin. Tp kalo gue tetep stay dan nggak pergi, kutu-kutu itu bakal terus menggerogoti gue, pelan tapi pasti. Kutu-kutu itu akan terus menyakiti gue. Gue pun berusaha bangun, gue berusaha manjat lubang itu dengan susah payah. Gue pun berhasil, dengan baju yang kotor penuh tanah, dengan baju yang basah krna peluh. Akhirnya gue berhasil. Gue berhasil keluar dari lubang itu. Gue berhasil naik keatas dan nyelametin diri gue dari kutu-kutu kasur itu. Tapi tau nggak? Setelah gue berdiri dan liat lubang itu. Ada yang hilang. Entah apa. Seperti ada yang pergi.
Mungkin benar, perjalanan hati seseorang tidak akan pernah berhenti sampai ajal menjemput. Sampai di perjalanan itu kita menemui malaikat pencabut nyawa. Sampai di perjalanan itu kita menemui maut. Sampai kita tidak bisa berjalan lagi. Barulah perjalanan panjang itu berakhir.